2

2

Senin, 08 Juni 2015

TAGGED UNDER:

Misteri Batu Berjalan Kematian Terpecahkan

Di lembah itu, matahari baru bersinar. Cahaya emas kekuningan berpendar di antara awan yang berarak. Bukit-bukit batu di bawahnya terlihat berdiri kokoh.

Ketika Misteri Batu Berjalan di Lembah Kematian Terpecahkan

Namun, ketika matahari bersinar penuh, ada yang aneh di gambar itu. Sebuah batu, berukuran besar, berdiri terpisah cukup jauh dari bukti-bukit batu itu.

Anehnya lagi, batu itu seolah bergerak sendiri. Soalnya di belakang batu itu ada sebuah jejak panjang. Jejak di tanah itu membekas dalam, membentang jauh dari bukit-bukit batu itu sampai tempat batu itu berdiri tegak. Aneh.

Misteri ini sudah berumur lama. Sejumlah batu bisa berjalan, dalam arti yang paling harafiah, di hamparan gurun yang kemudian sohor dengan sebutan Lembah Kematian (Death Valley) di California, Amerika Serikat.

Misterius, sebab yang kita tahu, batu itu senantiasa berdiam di tempat. Ia hanya bergerak jika dipindahkan manusia. Namun, di sana, batu-batu itu bisa bergerak sendiri, dan meninggalkan jejak yang cukup panjang.

Ternyata fenomena "batu berjalan" itu tidak hanya terjadi di negeri Paman Sam itu, tetapi juga terjadi di Laguna Altillo Chica, Spanyol, dan sejumlah negara lain.

Jangankan orang awam seperti kita, para ilmuwan pun tercengang dengan femonena alam ini. Sejumlah ilmuwan kemudian melakukan penelitian untuk menjawab misteri itu. Begitu banyak spekulasi terkait hal ini.

Namun, misteri yang menggantung sejak berabad lalu itu mulai memperlihatkan titik cerah. Bukan jin atau angin mahluk halus yang menggerakkan ratusan batu di atas permukaan danau kering atau playa di Lembah Kematian, California, Amerika Serikat. Tetapi suatu proses kimia alami sederhana yang terjadi di kawasan itu

Misteri Batu Berjalan di Tangan Peneliti Amerika Serikat
Ratusan jalur batu terukir jelas di Death Valley California. Terdapat batu di setiap ujung jalur, tetapi tidak ada yang melihat apapun di hamparan lumpur kering tersebut. Beberapa dekade lalu, tersebar spekulasi bahwa fenomena alam itu merupakan akibat angin kencang dan es yang menyebabkan permukaan batu licin.

Selama musim dingin tahun 2011, sebuah tim yang dipimpin Richard Norris dari Scripps Institution of Oceanography meneliti sebanyak 15 batu dengan menempelkan Global Positioning System atau GPS pada batu tersebut. Batu itu dipantau dengan bantuan stasiun cuaca resolusi tinggi dan kamera.

Eksperimen dilakukan pada musim dingin 2011 setelah memperoleh izin dari pengelola taman nasional. Ralph Lorenz, salah seorang penulis makalah dari Applied Physics Laboratory di Johns Hopkins University, menduga riset mereka akan menjadi eksperimen yang paling membosankan karena mereka harus menunggu sesuatu yang tak pasti.

"Sains terkadang memiliki unsur keberuntungan. Kita telah menunggu 5 sampai 10 tahun tanpa pergerakan apa-apa, tetapi hanya dua tahun dalam proyek ini, dan kami kebetulan dalam waktu yang tepat, melihat kejadian itu secara pribadi," kata Norris dalam keterangan persnya, yang dikutip dari iflscience.com.

Pada 2013, Norris dan sepupunya, Jim Norris, yang juga terlibat dalam penelitian tersebut, tiba di Death Valley dan menemukan bahwa daerah itu digenangi air sedalam 7 sentimeter. Tak lama kemudian, batu-batu mulai bergerak.

"Pada 21 Desember 2013, terdengar suara retak es dari permukaan kolam beku, tidak lama setelah itu, batu-batu mulai bergerak," jelasnya.

Meneliti batuan yang bergerak ini tidaklah mudah karena merupakan suatu peristiwa langka. Pertama, kawasan ini terisi air yang cukup untuk membentuk es mengapung pada malam hari di musim dingin tapi juga cukup dangkal sehingga masih bisa memunculkan batu di permukaan.

Ketika temperatur turun drastis pada malam hari, kolam membeku dan membentuk lapisan es setipis kaca. Es itu harus cukup tipis agar batu bisa bergerak lancar, tapi juga harus cukup tebal agar tak mudah pecah.

Pada pagi hari yang cerah, es akan mencair dan pecah menjadi panel-panel es besar. Dibantu dorongan angin, maka batuan mulai bergerak dengan kecepatan 5 meter per detik. Jauhnya batu "melangkah" ini tergantung dengan angin dan air yang mengalir di bawahnya. Akibatnya batu pun meninggalkan jejak di lumpur lunak.

 Ilmuwan Spanyol Temukan Hipotesis yang Berbeda

Di tempat terpisah, sebuah tim ahli geologi dari Universitas Complutense di Madrid (UCM) telah menemukan bahwa batu-batu yang beratnya mencapai 7 kg juga bergerak di bagian dasar kering Laguna Altillo Chica di Lillo, Toledo, Spanyol.

Hasil penelitian tim yang dipublikasikan dalam jurnal Earth Surface Processes and Landforms itu menyebut jejak yang ditinggalkan batu-batu di Laguna Altillo Chica sama dengan yang terdapat di Death Valley. Jejak bekas batu bergeser tersebut panjangnya bisa mencapai lebih dari 100 meter.

"Hipotesis kami, batu-batu itu bergerak selama musim dingin, ketika badai menghasilkan arus angin yang kencang. Angin tersebut mampu menciptakan arus air dengan kecepatan dua meter per detik. Inilah yang penyebab sebenarnya batu-batu itu bergerak," kata MarĂ­a Esther Sanz, salah satu peneliti kepada SINC.

Namun pergerakan batu itu selain karena dorongan angin, juga mendapat 'bantuan' dari mikroba.

Sebuah kumpulan mikroba dari jenis cyanobacteria, ganggang bersel tunggal dan organisme kecil lainnya hidup di bawah laguna dan mengeluarkan zat yang bersifat licin. Sedimen licin yang dihasilkan mikroba tersebut bertindak seperti arena skating untuk batu.

Tapi para ilmuwan Spanyol mengesampingkan kemungkinan bahwa lapisan es yang menyelimuti batu yang menggerakkan batu-batu, setidaknya dalam kasus Altillo Chica.

"Tempat ini dan laguna lain di daerah yang sama sangat asin dan jarang membeku (garam menurunkan titik beku air)," kata Sanz.

Pada akhirnya dua temuan itu telah menguak misteri berabad tentang batu berjalan. Tim peneliti Spanyol dan Amerika Serikat saling menguatkan temuan itu satu sama lain. Jawaban atas misteri batu berjalan itu memang memerlukan waktu lama. Ini juga menunjukkan kemenangan manusia sebagai mahluk Tuhan yang berakal.

Sebuah WebBlog yang digunakan untuk menampung segala macam bentuk artikel yang dapat dibaca dengan santai.
Follow me @satriamandala
Subscribe to this Blog via Email :

0 komentar:

Pengikut

© 2014 Aneh Di Dunia. Designed by Bloggertheme9
Powered by Blogger.
back to top